11/11/2018

Desa Ramah Burung Tuan Rumah PPBI VIII

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke VIII, sebagai hajatan besar tempat berkumpul dan berdiskusi bagi seluruh pengamat dan pemerhati burung se-Indonesia, terasa sangat istimewa di tahun ini. Acara rutin tahunan ini, untuk pertama kalinya digelar sinergis bersama dengan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Adalah desa Jatimulyo yang mendapat kehormatan menjadi lokasi kegiatan ini, tepatnya di pedukuhan Gunungkelir. Acara yang digelar pada tanggal 2-4 November ini diikuti oleh kurang lebih 150 orang pengamat burung dari seluruh Indonesia. Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) menjadi panitia pelaksana PPBI tahun ini.

Tema besar yang diusung PPBI VIII ini adalah Aviturisme. Acara diawali dengan seminar di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada Jumat pagi. Seminar dan diskusi ini berlangsung dengan seru karena menghadirkan para praktisi aviturisme yang telah lama malang melintang di dunia wisata perburungan. Mereka antara lain Shita Prativi dan Politarius atau Bang Poli. Sorenya dengan menggunakan kendaraan truk militer, para peserta bergerak menuju desa Jatimulyo. Di desa yang berada di Pegunungan Menoreh ini, para peserta akan menikmati kekayaan jenis burung yang menghuni kawasan hutan rakyat, sekaligus berbagi cerita dengan masyarakat desa.

9/05/2018

Nilai penting karst di Menoreh

Pegunungan Menoreh unik karena gugusan pegunungan ini memiliki batuan gamping Formasi Jonggrangan, lokasinya terkonsentrasi di dua kecamatan, yakni Girimulyo dan Kaligesing. Sementara singkapan-singkapan gamping dari formasi yang sama juga dijumpai di beberapa tempat dan terpisah cukup jauh dari sebaran utama. Batuan kapur di dua kecamatan tersebut membentuk fenomena karst yang sangat menarik dari sisi ilmiah, mengingat berada di ketinggian 600-800 mdpl, dan terpisah cukup jauh dari kawasan karst lainnya.

8/08/2018

Agroforest Jatimulyo, sebuah warisan berharga


Jatimulyo, sebuah desa di perbukitan Menoreh, masuk wilayah administratif kec Girimulyo kab Kulon Progo. Dengan luas desa sekitar 1.600 ha, wilayahnya didominasi oleh hutan rakyat (agroforest). Tentunya bisa ditebak bahwa mata pencaharian utama masyarakat adalah petani kebun. Rata-rata kepemilikan lahan masyarakat kurang dari 1 ha. 

Agroforest tidak mak bedunduk terbentuk begitu saja. Faktanya, Jatimulyo dahulu didominasi areal pertanian, berupa sawah dan ladang sebagai lahan produksi pangan. Proses konversinya lebih dari 50 tahun. Dilihat dari proses pembentukannya, agroforest di Jatimulyo terbentuk secara tradisional. Merupakan hasil dari pengalaman panjang trial and error yang dilakukan oleh para petani. Proses konversi berjalan secara bertahap, seiring masuknya komoditas-komoditas bernilai ekonomi tinggi mulai dari vanili, cengkeh, dan komoditas-komoditas penting lainnya. Keberanian masyarakat untuk tidak lagi swasembada pangan menarik untuk dikaji. Karena nyatanya mereka tetap bertahan, berdaulat pangan, dan bahkan tidak sedikit yang kondisi perekonomian keluarganya di atas rata-rata. Agroforest di Jatimulyo seakan sebuah oase, saat konversi hutan menjadi lahan monokultur menjadi tren global; di desa ini para petani justru membangun sebuah mahakarya. Hutan.