3/01/2016

Mimpi besar merintis laboratorium alam Menoreh: studi kasus Desa Jatimulyo



Pegunungan (atau biasa disebut perbukitan) Menoreh menyimpan potensi besar dalam berbagai aspek. Kawasan ini biasa dikiaskan sebagai benteng sebelah barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, karena berupa pegunungan yang memanjang, membujur dari selatan ke utara, sekaligus menjadi batas alam dengan Provinsi Jawa Tengah. Jauh sebelum Pulau Jawa terbentuk seperti sekarang, kawasan ini merupakan gunung api di bawah laut, ditandai dengan tipe batuan vulkanik dan bekas-bekas intrusi magma. Bukti lain yang mendukung fakta bahwa kawasan ini dulunya terendam laut adalah adanya formasi batugamping yang dikenal sebagai Formasi Jonggrangan yang menumpang di atas formasi batuan vulkanik purba tersebut. Telah diketahui bersama bahwa batugamping atau kapur dihasilkan oleh sisa binatang laut (terumbu karang).

Desa Jatimulyo adalah salah satu desa di kawasan Menoreh, berada di ujung barat Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Desa ini berada di ketinggian 600-800 mdpl. Desa dengan jumlah penduduk kurang lebih 7 ribu jiwa ini menyimpan banyak potensi yang menunggu untuk diungkap dan selanjutnya dikelola dengan baik agar memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.


Potensi 
Dilihat dari tipe batuan yang ada, desa ini terdiri dari batuan andesit tua dan batuan kapur yang membentuk kawasan karst. Bentang alam karst ini ditandai dengan karakteristik yang khas seperti bukit-bukit karst, cekungan-cekungan tertutup, gua-gua alam, dll. Salah satu gua di Jatimulyo adalah Gua Kiskendo-Sumitro, sebagai gua dengan sistem perguaan terpanjang di Menoreh dengan panjang lebih dari 2 km. Sebagian lorong gua ini telah dibuka sebagai gua wisata sejak era 80an. Gua Kiskendo juga telah ditetapkan menjadi salah satu warisan geologi (geoheritage) Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
Gambaran sebaran gua, ponor, dan mata air karst di Jatimulyo.

Karst di Jatimulyo juga menyimpan potensi hidrologi, yang sebagian telah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Salah satu keberhasilan pengelolaan air bersih di desa ini adalah pengangkatan air di Gua Silodo. Pengangkatan ini digagas dan dikelola sendiri oleh masyarakat melalui Pamsimas, dan telah dimanfaatkan oleh setidaknya 100 rumah. Banyak sungai-sungai yang berhulu pada mata air karst, dan merupakan penyuplai air untuk kawasan di bawahnya.

Potensi lain yang tak kalah menarik adalah keanekaragaman hayatinya. Desa Jatimulyo memiliki tipe habitat yang bervariasi, sehingga mendukung keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Habitat yang dimaksud meliputi hutan alam, perkebunan, sungai dan sempadannya, dan goa-goa alam serta habitat bawah tanah (subterranean). Tak muluk-muluk jika desa ini dinobatkan menjadi salah satu hot spot keanekaragaman hayati di DIY. Pendataan yang dilakukan komunitas pengamat dan peneliti burung telah mencatat setidaknya 80 jenis burung (PPBJ, 2016). Kekayaan jenis burung menjadikan desa ini menarik perhatian pemerhati burung, khususnya di Yogyakarta. Jumlah tersebut masih kalah dengan keanekaragaman jenis burung Merapi, namun menjadi sangat menarik mengingat kawasan desa ini bukan kawasan konservasi. 

 Data jenis burung desa, peran nyata akademisi dan pegiat konservasi.

Catatan penting lainnya dari desa ini adalah kekayaan jenis serangganya. Informasi mengenai serangga masih terbatas, namun memberi gambaran awal yang mengesankan. Setidaknya 35 jenis kupu-kupu tercatat dari kawasan ini (Matalabiogama, 2007). Dua jenis diantaranya adalah kupu-kupu Troides amphrysus dan T. helena yang termasuk jenis-jenis dilindungi menurut PP No 7 tahun 1999. Lebih dari 15 jenis capung tercatat hanya dari satu lokasi, dua di antaranya adalah jenis endemik Jawa (Sungkono, 2015). Dilihat dari potensi bawah tanahnya, salah satu gua di desa ini merupakan habitat biota troglobion yang diduga jenis Amauropelma matakecil, laba-laba endemik kawasan karst Menoreh. Catatan mengenai laba-laba ini jika terkonfirmasi sebagai A. matakecil, maka menjadi catatan sebaran baru setelah 3 gua lainnya yang berada di Jawa Tengah, sekaligus menjadi catatan pertama untuk wilayah DIY.

Hutan perkebunan rakyat (agroforest) merupakan salah satu aspek penting bagi kawasan ini. Selain menjadi penunjang perekonomian masyarakat, tutupan vegetasi agroforest juga terkait dengan berbagai aspek lain, antara lain dalam menjaga sumber daya air, menjadi penahan longsor, dan tentu saja menjadi habitat flora-fauna.  Perkebunan rakyat di desa ini menghasilkan komoditas kayu keras, rempah-rempah, gula kelapa, hasil aren, kopi, kakao, dan buah-buahan. Durian, manggis, dan petai merupakan buah-buahan sebagai komoditas unggulan dari desa ini. 

Isu-isu penting
Menilik dari potensi yang telah terungkap (dan potensi yang belum terungkap) dari Desa Jatimulyo dan kawasan Menoreh secara umum, semua pasti setuju bahwa pengelolaan potensi yang ada harus bijak dan mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan yang baik diawali dengan ketersediaan data mengenai potensi kawasan. Data yang sekarang tersedia, diyakini masih belum menggambarkan potensi sepenuhnya. Kedepannya, pendataan dan pemetaan potensi masih akan menjadi isu penting. Dewasa ini konsep pendataan yang diterapkan seharusnya adalah pendataan partisipatif, di mana masyarakat lokal menjadi aktor penting di luar peran para peneliti dan pemerhati. 

Kondisi topografi kawasan yang berbukit-bukit dengan lereng yang terjal menyimpan potensi bencana yang mengancam masyarakat yang tinggal di dalamnya. Terlebih fenomena karstifikasi yang aktif juga menimbulkan ancaman runtuhan tanah. Di lain sisi, ketersediaan air juga rentan mengalami penurunan daya dukung sampai pada kondisi defisit jika terjadi kerusakan lingkungan pada zona tangkapan air. Penurunan debit air ini secara kualitatif telah terdeteksi oleh masyarakat. Mitigasi bencana adalah isu penting yang perlu dimasukkan dalam daftar pekerjaan rumah bagi Desa Jatimulyo maupun kawasan Menoreh secara umum.

 Runtuhan tanah menjadi ancaman bencana di Menoreh.

Lingkungan yang lestari merupakan dambaan semua orang. Demi menjamin kelestarian lingkungan hidup, pemerintah desa telah menerbitkan peraturan desa (perdes) yang mengatur tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Akan tetapi adanya aturan rasanya tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat setempat dalam menjaga lingkungannya. Penyadartahuan masyarakat mengenai pentingnya konservasi perlu dilakukan. Desa ini telah memiliki kesadaran konservasi dalam perspektif kearifan lokal, yang salah satunya diwujudkan dalam upacara adat ‘merti dusun’, akan tetapi dikhawatirkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan semakin pudar di masa yang akan datang. Budaya kiranya menjadi benteng yang kokoh untuk menahan gempuran modernisasi yang pada satu sisi memberi dampak mengerikan bagi lingkungan hidup.

Merintis 'laboratorium alam' bersama di Menoreh
Berbagai fakta yang disampaikan di atas memberikan kesimpulan bahwa  untuk mewujudkan konsep pengelolaan kawasan yang berkelanjutan, masih dibutuhkan banyak kajian dan diskusi panjang. Desa Jatimulyo telah dijadikan area kajian studi bagi berbagai kalangan, baik akademisi maupun pemerhati lingkungan. Namun sayangnya masih sedikit pihak yang memiliki kesadaran untuk berbagi hasil kajiannya kepada masyarakat setempat. Kajian yang dilakukan juga masih terbatas pada beberapa disiplin ilmu. Sayang sekali jika hasil-hasil penelitian dari kawasan ini hanya menumpuk di almari perpustakaan tanpa bisa diakses oleh masyarakat sebagai salah satu pihak yang berkepentingan.

Desa Jatimulyo bisa di tempuh selama satu setengah jam dari Yogyakarta, kota yang identitasnya adalah kota pelajar. Banyak pakar di bidangnya, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi. Belum lagi banyaknya komunitas dan lembaga nonpemerintah yang bermukim di kota ini, yang bekerja pada berbagai bidang. Jadi bukan sesuatu yang mustahil untuk bersinergi, bersama-sama bahu-membahu menjadikan kawasan Menoreh sebagai 'laboratorium alam' bersama bagi berbagai disiplin ilmu. Semakin banyak pihak berkontribusi, maka semakin besar juga pencapaiannya. Satu lagi, akan menjadi salah satu ciri keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta jika masyarakat dijadikan salah satu aktor penting dalam sebuah proses pengembangan ilmu pengetahuan. Mungkin bisa kita mulai dari sini, dari Desa Jatimulyo.




Ditulis sambil sesekali menyeruput kopi robusta Menoreh yang dipetik dari kebun yang kaya akan jenis-jenis burung,

Sidiq Harjanto

No comments:

Post a Comment