8/15/2017

Jambore Capung 2017

Pada tanggal 11-12 Agustus 2017 telah berlangsung perhelatan bertajuk ‘Jambore Capung Indonesia ke II’. Sebagai panitia pelaksana adalah Biolaska (Mahasiswa Pecinta Alam Biologi UIN Sunan Kalijaga), bekerja sama dengan Water Forum UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan didukung oleh Indonesia Dragonfly Society, Capung Indonesia, Kopi Sulingan, Pemerintah Desa Jatimulyo, serta segenap sponsor dan media massa. Jambore kali ini diikuti kurang lebih 85 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia. 

Kegiatan jambore dibuka pagi hari di kampus UIN, dan selanjutnya dilanjutkan di dusun Gunungkelir, Jatimulyo. Suasana malam hari di Desa Jatimulyo menjadi momen tak terlupakan bagi segenap peserta dan panitia. Jambore Capung menjadi ajang berkumpul bagi komunitas pemerhati capung seantero Nusantara. Acara di Jatimulyo sendiri diisi dengan diskusi terkait perkembangan percapungan di Indonesia, berburu foto bersama, lomba fotografi, dan malam keakraban di antara para pemerhati dan pakar capung.

5/03/2017

Secercah harapan di desa ramah burung

Dinginnya pagi tidak menghalangi perjalanan sekelompok orang berpakaian loreng memanggul benda berat nan panjang di pundak. Mereka menembus rimbunnya hutan rakyat di sebuah desa asri bernama Jatimulyo. Mereka bukan tentara, pakaian loreng yang mereka kenakan adalah pakaian khusus untuk melakukan aktivitas fotografi hidupan liar (wildlife photography). Benda berat panjang yang mereka panggul tak lain adalah tripod yang nanti berfungsi untuk menegakkan kamera-kamera mereka saat 'membidik buruan'. Mereka jauh-jauh datang dari kota ke desa ini untuk menikmati puluhan jenis burung yang hidup bebas di alamnya.

3/27/2017

Lebah penjaga kelestarian Menoreh

Ada jasa lebah pada satu di antara tiga makanan yang kita makan sehari-hari. Itulah klaim dunia atas peran penting lebah dalam proses penyerbukan bunga berbagai tanaman pangan. Dalam mendapatkan makanan berupa nektar dan serbuk sari, lebah bersinggungan dengan butir-butir serbuk sari dan kemudian memungkinkan serbuk sari berceceran, menempel pada putik bunga, sehingga memungkinkan terjadinya penyerbukan. Lebah juga menjadi agen polinator penting bagi berbagai jenis tumbuhan hutan, sehingga secara ekologis memiliki peran vital dalam regenerasinya.

Sejak ribuan tahun, lebah dan manusia telah memiliki hubungan baik. Manusia sebagai makhluk berakal telah sejak lama mengembangkan teknik memelihara lebah. Hal ini terkait akan kepentingan untuk mendapatkan produk lebah, terutama madu. Jauh sebelum gula tebu ditemukan, madu merupakan bahan pemanis yang penting bagi peradaban manusia. Di Eropa, lebah jenis Apis mellifera merupakan jenis yang dipelihara sebagai penghasil utama madu. Lebah jenis ini didatangkan ke Indonesia pada tahun 70an. Sebelumnya masyarakat Indonesia juga telah memelihara lebah asli Indonesia, dari jenis Apis cerana dengan metode pemeliharaan yang sederhana. Jenis lebah hutan (Apis dorsata) menjadi pemasok utama madu di Indonesia karena produksi madunya yang melimpah.

3/08/2017

Si matakecil, bidadari kegelapan dari Menoreh

Ukurannya tak lebih dari kuku jari kelingking, laba-laba kecil berwarna cokelat pucat, hanya hidup di lantai dan dinding gua-gua di kawasan karst Menoreh. Terkadang bersembunyi di balik bebatuan. Dialah si laba-laba matakecil, biota gua dengan sebaran terbatas di kawasan karst sempit di puncak Menoreh. Laba-laba dengan nama latin Amauropelma matakecil ini tercatat di empat gua saja, dan hanya dapat dijumpai di zona gelap total dengan kondisi lingkungan yang relatif stabil. Jumlahnya pun kemungkinan tidak melimpah, biasanya hanya 5-10 individu dapat dijumpai dalam satu kali pengamatan.



Laba-laba matakecil termasuk dalam kelompok troglobion, yaitu biota yang hanya hidup di dalam gua. Proses evolusi yang berlangsung jutaan tahun telah menjadikan biota troglobion sangat teradaptasi dengan lingkungan gua yang gelap total dan memiliki kelembaban sangat tinggi. Karakter khas laba-laba matakecil sebagai troglobion antara lain reduksi mata yang sangat ekstrim hingga menyisakan bintik-bintik kecil, reduksi pigmen kulit sehingga menjadikannya pucat, dan pengembangan sensor berupa rambut-rambut halus yang panjang atau biasa disebut trichobotria.