5/03/2017

Secercah harapan di desa ramah burung

Dinginnya pagi tidak menghalangi perjalanan sekelompok orang berpakaian loreng memanggul benda berat nan panjang di pundak. Mereka menembus rimbunnya hutan rakyat di sebuah desa asri bernama Jatimulyo. Mereka bukan tentara, pakaian loreng yang mereka kenakan adalah pakaian khusus untuk melakukan aktivitas fotografi hidupan liar (wildlife photography). Benda berat panjang yang mereka panggul tak lain adalah tripod yang nanti berfungsi untuk menegakkan kamera-kamera mereka saat 'membidik buruan'. Mereka jauh-jauh datang dari kota ke desa ini untuk menikmati puluhan jenis burung yang hidup bebas di alamnya.



Desa Jatimulyo berada di pegunungan Menoreh, wilayahnya didominasi oleh kawasan hutan rakyat (agroforest) yang mendukung kehidupan berbagai fauna. Hingga saat ini tercatat hampir 100 jenis burung mendiami kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat. Jumlah tersebut terbilang fantastis, mengingat kawasan ini bukanlah kawasan konservasi. Para pemerhati burung bersepakat bahwa pola pengelolaan kebun milik masyarakat yang mampu mengkombinasikan berbagai jenis tanaman, merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan burung.

Burung pijantung gunung (Foto atas izin Kelik Suparno)

Untuk lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan agroforest di Jatimulyo menjadi semakin istimewa karena menyimpan beberapa jenis burung yang sebarannya relatif terbatas. Burung udang api (Ceyx erithaca), serak bukit (Phodilus badius), dan pijantung gunung (Arachnothera affinis) sejauh ini hanya tercatat dari kawasan ini. Para pemburu foto dan pengamat burung umumnya mengincar jenis-jenis ini untuk diabadikan melalui lensa telenya, atau sekedar mengamati dan mengagumi mereka di alam.

Adalah Kelik Suparno, seorang anak muda asli Jatimulyo yang kini menjadi salah satu pejuang konservasi burung di desanya. Semangatnya untuk melestarikan berbagai jenis burung yang hidup di desanya muncul sejak para fotografer satwa berdatangan ke Jatimulyo beberapa tahun silam. Selain aktif dalam kegiatan pendokumentasian dan monitoring burung, pria yang akrab disapa Kelik ini kini mengembangkan usaha produksi kopi dengan label 'Kopi Sulingan'. Nama 'Sulingan' sendiri diinspirasi oleh burung sulingan (Cyornis banyumas), yang seringkali dijumpai di kebun kopi. Usaha ini dirintisnya bersama Yayasan Kutilang Indonesia sebagai salah satu upaya nyata dalam menggerakkan perekonomian di kawasan yang memiliki nilai penting bagi kehidupan burung. Sebagian keuntungan bisnis kopi tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan konservasi alam, terutama untuk mengkampanyekan pelestarian burung.

Burung munguk beledu (Foto atas izin Kelik Suparno)

Guna memberikan kepastian hukum bagi pelestarian jenis-jenis burung di desa Jatimulyo, pemerintah desa telah menerbitkan peraturan desa (perdes) yang melarang segala jenis aktivitas perburuan burung dan satwa lainnya di wilayah desa ini. Brand 'Desa Ramah Burung' telah mulai digulirkan untuk memasyarakatkan  komitmen desa Jatimulyo dalam menjaga kelestarian burung di wilayahnya. Dengan adanya aturan hukum, dan didukung oleh upaya para pejuang konservasi seperti Kelik dan komunitasnya tersebut, maka setidaknya ada secercah harapan bagi kelestarian alam di secuil kawasan Menoreh. Salam lestari!

No comments:

Post a Comment