1/06/2018

Mengalungkan pelestarian alam pada kebangkitan kopi Menoreh

Kopi, barangkali sangat dekat dengan keseharian kita. Minuman beraroma khas ini dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja dengan berbagai macam cara penyajian. Secangkir kopi umumnya menjadi teman bersantai atau ngobrol bersama teman. Namun ternyata kopi bisa menjadi lebih dari sekedar minuman yang disajikan hangat dalam sebuah cangkir. Hal inilah yang ingin dibuktikan oleh sekelompok anak muda di Dusun Gunung Kelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo. Adalah Kelik bersama teman-teman di desanya, yang memproduksi kopi asli Pegunungan Menoreh sebagai upaya untuk berkontribusi dalam konservasi alam. Bagaimana cara kerjanya?
 
Pegunungan Menoreh sudah cukup lama dikenal sebagai daerah penghasil kopi, barangkali sejak zaman penjajahan. Kopi pernah menjadi salah satu komoditas andalan Menoreh pada suatu masa di awal-awal kemerdekaan. Masyarakat Menoreh pada masa itu bahkan memiliki tradisi mengolah kopi secara tradisional. Kopi disangrai menggunakan periuk tanah, atau biasa disebut kuali, kemudian ditumbuk menjadi bubuk siap saji. Minuman ini biasanya disajikan hangat ditemani secuil gula aren yang manis dan gurih. Produk mereka sendiri juga. Pada zamannya, kopi sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Menoreh. Hingga kemudian, seiring pergeseran waktu, kopi Menoreh kian tersisihkan; hingga nyaris tak lagi dipetik.

Sejarah kejayaan kopi Menoreh inilah yang melatar belakangi Kelik dan kawan-kawan kemudian tergerak untuk menghidupkan kembali tradisi kopi di Menoreh, khususnya di desa Jatimulyo. Gayung bersambut, awal tahun 2015 dia bertemu dengan Imam Taufiqurrahman dari Yayasan Kutilang Indonesia, dan Sidiq Harjanto dari Komunitas Peduli Menoreh. Imam yang pemerhati hidupan liar, khususnya burung, datang ke Jatimulyo dalam misi mengkaji keanekaragaman burung di desa ini. Baginya desa ini sangat menarik, karena kekayaan jenis burungnya yang di atas rata-rata. Sementara Sidiq sudah cukup lama mempelajari kawasan ini, khususnya mengenai fenomena karst. Sama-sama pecinta kopi, mereka bersepakat untuk bahu-membahu mengembangkan kopi Menoreh sebagai suatu produk yang lebih dari sekedar minuman.


Terhitung mulai pertengahan 2015, mereka belajar bagaimana cara mengolah kopi menjadi minuman yang nikmat. Semua diawali dari pemanenan kopi yang baik. Buah kopi yang dipetik haruslah yang sudah matang. Ditandai dengan kulitnya yang berwarna merah menyala. Buah-buah merah dari jenis robusta itu kemudian dikupas, difermentasi, kemudian dikeringkan menjadi gabah. Selanjutnya kopi gabah yang telah betul-betul kering ditumbuk untuk melepaskan cangkangnya, maka diperoleh kopi beras.  Proses pemilahan atau sortasi dilakukan untuk mendapatkan kopi beras dengan kualitas terbaik. Beras pilihan inilah yang disangrai menjadi kopi yang nikmat dengan aroma yang menggoda.


Kini setelah dua tahun berproses, sebuah produk istimewa telah lahir. Produk kopi yang terbilang premium tersebut diberi label 'Kopi Sulingan'. Nama sulingan ini diambil dari nama burung dengan nama latin Cyornis banyumas, yang memang menyukai habitat kebun kopi. Melalui produk kopi inilah mereka hendak menyampaikan pesan kepada dunia. Kepada para peminum dan penikmat kopi, bahwa ada satu surga bagi puluhan jenis burung di kawasan Menoreh. Di tempat tersebut burung dapat hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa saling mengusik. Para pecinta dan pemerhati burung dari berbagai daerah bahkan telah mulai berbondong-bondong datang ke Jatimulyo untuk mengapresiasi hal itu. Di sela-sela kesibukannya, Kelik kini merangkap sebagai guide untuk pengamatan maupun fotografi burung di wilayah desanya.

Dengan pemanfaatan kopi menjadi suatu produk bernilai ekonomi, maka diharapkan masyarakat di Jatimulyo tetap mau memelihara tanaman ini sebagai salah satu bagian dari tanaman hutan rakyat. Habitat dari burung dan fauna lainnya. Dan inilah awal kebangkitan kopi Menoreh. Salam lestari!

Kopi Sulingan
Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo



No comments:

Post a Comment