4/12/2018

Rejeban, bentuk syukur masyarakat Gunungkelir dan Banyunganti

Pada tanggal 10 April 2018 kemarin telah dilaksanakan upacara adat merti dusun 'Rejeban'. Upacara adat ini merupakan kegiatan rutin bagi masyarakat di dusun Gunungkelir dan Banyunganti, desa Jatimulyo pada tiap bulan Rejeb (Rajab menurut kalender hijriyah). Kegiatan ini mampu membuat nyaris seluruh warga masyarakat keluar rumah dan berpartisipasi memeriahkannya. Maksud dan tujuan dari upacara adat ini adalah sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki berupa hasil bumi maupun segala anugerah lainnya seperti kesehatan, keamanan lingkungan, dll.




Sejak pagi masyarakat telah disibukkan dengan berbagai aktivitas. Ada yang mempersiapkan aneka hasil bumi untuk menghias gunungan, ada yang mempersiapkan lokasi kegiatan, dan ada pula yang mempersiapkan hidangan berupa makanan maupun minuman. Gadis-gadis remaja sibuk berhias diri dengan pakaian adat. Semua nampak bersemangat.

Acara dimulai dengan arak-arakan gunungan yang diikuti oleh warga masyarakat mulai dari anak-anak sampai para lanjut usia. Arak-arakan panjang ini berhenti di lokasi puncak acara, sebuah tempat bernama Pundhen Gondang Ho. Di tempat yang disakralkan ini puncak acara berupa doa digelar. Seekor kambing kendhit (dengan pola rambut putih melingkar perut) disembelih sebagai simbol rasa syukur. Selanjutnya masyarakat dipersilahkan untuk berbut segala bentuk hasil bumi maupun makanan yang menghias gunungan. Kegembiraan dan tawa ceria nan gegap gempita pun pecah.


Yang unik dari upacara merti dusun Rejeban ini adalah ditampilkannya kesenian tayub/ledek. Konon, kesenian ini dalam sejarahnya merupakan hasil dari interaksi masyarakat Gunungkelir dengan masyarakat dari kabupaten Gunungkidul. Dahulu kala kawasan Gunungkelir dan sekitarnya didominasi oleh areal persawahan. Pada saat musim panen raya, banyak masyarakat dari daerah lain berdatangan menjadi buruh petik. Termasuk masyarakat dari Gunungkidul. Untuk menandai hubungan baik tersebut, maka masyarakat Gunungkelir selalu mengundang para penari tayub asal Gunungkidul untuk memeriahkan Rejeban. Hingga sekarangpun, saat sawah telah habis, dan tidak ada lagi buruh petik, seni tayub tetap dipertahankan sebagai bagian dari Rejeban.




No comments:

Post a Comment