9/05/2018

Nilai penting karst di Menoreh

Pegunungan Menoreh unik karena gugusan pegunungan ini memiliki batuan gamping Formasi Jonggrangan, lokasinya terkonsentrasi di dua kecamatan, yakni Girimulyo dan Kaligesing. Sementara singkapan-singkapan gamping dari formasi yang sama juga dijumpai di beberapa tempat dan terpisah cukup jauh dari sebaran utama. Batuan kapur di dua kecamatan tersebut membentuk fenomena karst yang sangat menarik dari sisi ilmiah, mengingat berada di ketinggian 600-800 mdpl, dan terpisah cukup jauh dari kawasan karst lainnya.

Berbeda dengan kawasan karst pada umumnya yang cenderung gersang dan tandus, pemandangan berbeda akan dijumpai di Karst Menoreh. Kawasan ini memiliki lapisan tanah yang tebal, sehingga tumbuhan yang dapat hidup lebih beragam. Hal ini menyebabkan kawasan karst di Menoreh cenderung tertup oleh vegetasi yang cukup lebat yang didominasi oleh perkebunan rakyat (agroforest), dan hutan pinus yang di kelola Perum Perhutani di wilayah kecamatan Kaligesing.

Karst di Menoreh dapat diidentifikasi dari berbagai ciri khas yang umum. Serupa dengan kawasan karst lainnya, di kawasan ini dapat dijumpai beberapa bukit-bukit karst. Di Menoreh bukit-bukit ini relatif terjal. Di antara bukit-bukit karst yang tersebar di Menoreh, terdapat cekungan-cekungan tertutup (dolina) yang juga mencirikan fenomena bentang karst. Di bawah permukaan tanah, lorong-lorong dan jaringan sungai bawah tanah terbentuk oleh proses pelarutan batuan maupun proses struktural seperti retakan, patahan, dll.



Nilai Penting Kawasan
1. Fungsi dalam siklus hidrologi
Kawasan karst memiliki karakteristik batuan dengan banyak rekahan dan pori-pori halus. Sungai permukaan jarang ditemukan di karst karena air hujan langsung meresap ke dalam rekahan dan membentuk sistem sungai bawah tanah. Sungai keluar melalui gua atau mata air dan keluar dari kawasan karst. Karst nampak seperti reservoir raksasa, dan fungsi kawasan menjadi sangat penting dalam penyediaan air bagi masyarakat.

2. Fungsi dalam mendukung kehidupan biota khas
Penemuan laba-laba buta Amauropelma matakecil (Miller&Rahmadi 2012) di kawasan ini menjadi salah catatan penting perkembangan biospeleologi di Indonesia. Hewan-hewan gua memiliki nilai penting ilmiah, misalnya dalam mengungkap evolusi hewan gua. Sebagai biota obligat gua, laba-laba buta dan hewan-hewan khas lainnya sangat tergantung dengan kelestarian kawasan karst.

3. Fungsi sebagai objek kajian geologi
Gua Kiskendo sebagai salah satu gua di kawasan ini telah ditetapkan menjadi warisan geologi (geo-heritage) Provinsi DIY. Di dalam gua ini bisa dijumpai kontak antara dua formasi batuan, yaitu Formasi Jonggrangan dan Formasi Andesit Tua di bawahnya. Berbagai bentukan karst, ornament gua, maupun mineral-mineral penyusunnya merupakan objek kajian bagi para geolog dalam mengembangkan keilmuan.

4. Fungsi perlindungan situs arkeologis dan sosial budaya masyarakat 
Gua Seplawan untuk saat ini diketahui sebagai satu-satunya gua di Menoreh yang memiliki situs purbakala. Ditandai dengan penemuan arca emas dan Lingga dan Yoni menjadikan gua ini salah satu situs arkeologi yang penting. Selanjutnya baru-baru ini juga dilaporkan temuan fosil tulang kuda nil di Gua Nguwik. Selain itu, banyak kearifan-kearifan lokal masyarakat yang erat kaitannya dengan keberadaan kawasan karst.

5. Fungsi sebagai pilar ekonomi masyarakat
Selain pendapatan masyarakat dari hasil pengelolaan kebun, pertanian, dan peternakan, kegiatan wisata mungkin mewakili kontribusi kawasan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kegiatan kepariwisataan di desa-desa sekitar kawasan karst sangat bergantung pada keberadaan karst karena mengandalkan wisata alam seperti wisata susur gua dan air terjun yang sungai-sungainya disuplai dari kawasan karst.

Masyarakat bisa hidup sinergis dengan kawasan karst dengan segala keunikan dan fungsi vitalnya jika berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan turun temurun. Melestarikan dan melindungi kawasan karst dari berbagai ancaman menjadi tugas kita bersama.

No comments:

Post a Comment