Gua

Potensi Gua Menoreh
Kawasan karst di Menoreh memiliki cukup banyak gua (diduga mencapai lebih dari seratus). Sebagian besar gua panjang memiliki sistem sungai bawah tanah. Sistem gua Kiskendo-Sumitro adalah yang terpanjang dan memiliki sistem yang rumit. Dengan lebih dari 10 pintu masuk (entrances), panjangnya mencapai lebih dari 2 kilometer, dan didominasi sungai bawah tanah. Gua ini telah dipetakan dengan baik oleh Palawa (2006) dan dilengkapi lagi dengan peta yang dibuat Surawan (2008). Air dari gua ini dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Gua Sumitro merupakan ujung akhir dari sistem ini dan memiliki debit air yang besar sehingga digunakan untuk mencukupi kebutuhan air bagi beberapa dusun di bawahnya. Gua Silodo sebagai salah satu pintu masuk gua Kiskendo telah dikelola untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di dusun Sokomoyo.

Selain sebagai sumber air, gua memberikan kontribusi perekonomian bagi masyarakat disekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa gua di Menoreh dibuka untuk kepentingan wisata, antara lain Gua Kiskendo, Seplawan, Anjani, Nguwik, dan Sikidang. Tentunya aktivitas wisata di gua ini perlu dikelola dengan baik untuk menjamin kelestariannya, karena di sisi lain gua-gua di Menoreh menyimpan kekayaan biota yang sangat berharga. Gua menjadi habitat beranekaragam biota, yang memiliki keunikan dan kekhasan. Salah satunya adalah Amauropelma matakecil Miller&Rahmadi 2012, laba-laba troglobion (khas gua) yang merupakan catatan pertama di Pulau Jawa. Gua ini ditemukan pada tahun 2009, dan publikasinya terbit pada tahun 2012. Jenis ini bisa dianggap sebagai flagship species bagi kegiatan konservasi kawasan karst di Menoreh.

Sebagian besar sistem gua-gua panjang telah dipetakan Palawa (2006). Gua-gua yang memiliki nilai penting tinggi di Menoreh antara lain:
1. Gua Kiskendo-Sumitro di Desa Jatimulyo: geoheritage, sistem terpanjang, sungai bawah tanah yang penting,
2. Gua Seplawan di Desa Donorejo: situs arkeologi, sungai bawah tanah, habitat biota khas,
3. Gua Anjani di Desa Tlogoguo: sistem sungai bawah tanah, habitat biota khas,
4. Gua Sekantong di Desa Tlogoguo: sistem sungai bawah tanah, sistem panjang,
5. Gua Nguwik di Desa Donorejo: sistem sungai bawah tanah, habitat biota khas,
6. Gua Mudal di Desa Jatimulyo: sistem sungai bawah tanah
7. Gua Sogotamu: habitat biota khas.

Gua Kiskendo telah ditetapkan sebagai warisan geologi (geoheritage) Yogyakarta, bersama dengan 8 geotapak lainnya. Gua Kiskendo sendiri memiliki keunikan dari sisi geologis, gua ini menyimpan rekaman geologi setelah kejayaan gunung api purba Old Andesite Formation. Formasi batu gamping Jonggrangan sebagai tempat terbentuknya Gua Kiskendo adalah batu gamping karst yang menumpang pada batuan andesit tua yang terangkat ratusan meter, menjadikan kawasan ini menjadi karst tertinggi di Yogyakarta, bahkan merupakan salah satu yang tertinggi di Jawa, setara dengan karst di Sukabumi. Di gua inilah bisa disaksikan kontak antara batuan gamping dengan batu gunung api purba yang menopang di bawahnya. 

Ancaman
Di lain sisi, gua-gua di Menoreh mendapatkan ancaman dari aktivitas masyarakat yang kurang memahami nilai penting gua. Ancaman nyata bagi gua di Menoreh antara lain pencemaran dan vandalisme. Pencemaran umumnya berasal dari pembuangan sampah di jumbleng-jumbleng (gua vertikal) dan lubang-lubang permukaan (ponor) yang terhubung dengan sungai-sungai bawah tanah. Tak heran bila ditemukan tumpukan sampah di sistem sungai-sungai penting, padahal air dari sungai ini dimanfaatkan oleh masyarakat di bawahnya. Sampah yang masuk juga berpotensi menjadi ancaman bagi ekosistem khas gua yang rentan terhadap pencemaran bahan berbahaya. Kerusakan gua juga diakibatkan oleh vandalisme oleh wisatawan yang kurang bertanggungjawab.

Upaya Konservasi
Untuk saat ini Gua Kiskendo dan Gua Sogotamu adalah dua gua yang menjadi fokus pemantauan oleh Komunitas Peduli Menoreh. Kami terus menerus melakukan pendataan potensi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang nilai penting gua-gua tersebut.