Karst




Tentang Karst 
Karst adalah bentang alam yang terbentuk di batuan karbonat yang menghasilkan bentukan-bentukan khas seperti cekungan tertutup, bukit-bukit karst, gua, dan sungai bawah tanah. Karst dipandang sebagai sebuah kesatuan ekosistem, yang terdiri dari ekso karst (kenampakan permukaan), dan endokarst (kenampakan di bawah permukaan).

Karst di Menoreh 
Kawasan karst Menoreh terbentuk pada formasi batugamping Jonggrangan yang berumur miosen, terletak di perbatasan antara Kabupaten Kulon Progo (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kabupaten Purworejo (Provinsi Jawa Tengah).  Berada di ketinggian 650-800 meter di atas permukaan laut, kawasan ini merupakan salah satu karst tertinggi di Pulau Jawa. Kawasan karst di Menoreh kurang lebih seluas 15 km2, membujur dari utara ke selatan. Bagian utara dan bagian selatan berbukit-bukit, sementara bagian tengah relatif lebih landai. Bagian timur dan barat dibatasi tebing-tebing curam, salah satunya tebing Kelir yang tingginya mencapai puluhan hingga ratusan meter. Kerucut karst umumnya memiliki punggungan terjal dan di antara kerucut seringkali ditemukan cekungan (doline) curam. Sebagian cekungan berakhir di gua, sementara beberapa yang lainnya berupa retakan-retakan yang tertutup tanah.
Berbeda dengan kawasan karst lainnya yang biasanya gersang dan tandus, kawasan ini tertutup oleh vegetasi yang relatif rapat. Vegetasi tersusun dari tanaman kebun rakyat, tanaman monokultur di lahan konsesi Perhutani, hingga hutan sekunder di beberapa lokasi. Lapisan tanah (top soil)  yang tebal mendukung aktivitas masyarakat di sektor pertanian dan perkebunan, sehingga mereka bergantung pada sektor ini.

Nilai Penting Kawasan
     Nilai hidrologis 
Pegunungan Menoreh merupakan zona tangkapan hujan bagi setidaknya dua wilayah kabupaten di sekitarnya. Keberadaan karst menyokong fungsi kawasan ini sebagai penampung cadangan air. Kawasan karst di Menoreh merupakan hulu beberapa sungai, terutama anak Sungai Serang di Kab. Kulonprogo. Palawa UAJY telah memetakan sebagian besar gua dan sistem sungai bawah tanah di kawasan ini tahun 2007. 
Sungai bawah tanah Sistem Kiskendo-Sumitro (SKS), sebagai salah satu sistem besar di Menoreh, mengalirkan air dengan debit di atas 100 liter/detik. Beberapa gua lainnya; seperti Gua Seplawan dan Gua Nguwik; memiliki debit yang lebih kecil. Beberapa sungai bawah tanah tersebut menjadi penyuplai air bagi masyarakat karst di bagian timur dan barat, hingga ke daerah di luar kawasan karst. 

Nilai (ilmiah) geologis 
Batuan karbonat tempat terbentuknya fenomena karst merupakan hasil pengendapan material yang terjadi jutaan tahun yang lalu. Proses-proses karstifikasi menghasilkan bentukan-bentukan alam yang sangat unik dan menjadi bagian dari kekayaan fenomena geologis. Mineral geologi dalam kawasan umumnya bervariasi dan beberapa di antaranya menghasilkan fenomena luar biasa, seperti endapan kalsit, dan berbagai ornamentasi dalam gua. Bentukan eksokarst seperti lapies, natural bridge, bukit, dan tebing karst dapat dijumpai di Karst Menoreh. Fenomena endokarstik berupa ornamen gua (speleothem) juga menunjukkan hasil ukiran alam yang sangat cantik. 

Nilai (ilmiah) biologis dan ekologis 
Keanekaragaman hayati kawasan Karst Menoreh masih belum sepenuhnya terungkap. Setidaknya 80 jenis burung pernah tercatat hanya dari satu lokasi pengamatan di sisi utara (data PPBJ-Paguyuban Pengamat Burung Jogja, tahun 2016). Catatan penting lainnya antara lain keberadaan dua jenis kupu-kupu dilindungi, Troides helena dan T. amphrysus (Matalabiogama 2007).
Karst merupakan habitat yang spesifik, sehingga ekosistem di dalamnya pun memiliki tipe yang spesifik. Gua sebagai ekosistem endokarst (subterranean karst) memiliki nilai biologis yang tinggi. Seringkali ekosistem gua menyumbangkan kekayaan fauna endemik.  Penemuan laba-laba buta pada tahun 2008 di kawasan ini menjadi salah catatan penting perkembangan biospeleologi di Indonesia. Hewan-hewan gua memiliki nilai penting ilmiah, misalnya dalam mengungkap evolusi hewan gua. 
Kelompok vertebrata menyumbangkan lebih dari 10 jenis kelelawar yang menggunakan gua sebagai tempat bertengger (roosting sites). Termasuk 2 jenis kelelawar rentan punah, Nycteris javanica dan Rhinolophus canuti. Jenis kelelawar lainnya, Tylonycteris robustula, memiliki ketergantungan dengan ketersedian rumpun bambu. Keberadaan kelelawar khususnya Microchiroptera memberikan kontribusi ekologis sebagai pengendali populasi serangga. Sementara kelelawar Megachiroptera berperan dalam membantu penyerbukan dan pemencaran biji-bijian.

    Nilai (ilmiah) arkeologis 
Gua Seplawan di Desa Donorejo adalah gua yang merupakan situs purbakala. Dimulai dari penemuan arca emas, kemudian penemuan Lingga dan Yoni, hingga tulisan Jawa kuno pada dinding gua menjadikan gua ini menjadi salah satu situs arkeologi yang penting. Gua Nguwik di desa yang sama merupakan lokasi penemuan fosil hewan purba.

    Nilai sosio-kultural 
Kekayaan budaya di Menoreh menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan dalam pengelolaan ke depan. Akar budaya masyarakat jawa sangat dekat dengan kearifan lokal. Mereka memiliki mekanisme tersendiri dalam menjaga keharmonisan dengan alam. Misalnya saja upacara adat merti dusun, yang menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia berupa alam beserta isi yang terkandung di dalamnya. Sekaligus sedekah bumi sebagai perlambang penghargaan terhadap alam yang disimbolkan dengan pohon besar atau mata air yang diyakini keramat. 

Nilai ekonomis 
Selain pendapatan masyarakat dari hasil perkebunan, pertanian, dan peternakan, kegiatan wisata mungkin mewakili kontribusi kawasan terhadap pertumbuhan ekonomi. Saat ini ada dua objek wisata gua yaitu Gua Kiskendo di Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo; dan Gua Seplawan di Desa Donorejo, Kec. Kaligesing. Meskipun hanya mampu mendatangkan wisatawan lokal, tetapi kegiatan wisata tersebut telah turut memutar roda perekonomian di sekitar masing-masing lokasi.