Sistem Kiskendo-Sumitro



Gua Kiskendo-Sumitro adalah sistem terpanjang dan terumit di kawasan karst Menoreh. Setidaknya ada 10 pintu masuk pada sistem ini, dengan panjang total lebih dari 2 km. Peta yang dibuat Surawan (2009) menggambarkan lorong sepanjang 1,94 kilometer; namun masih ada lorong yang belum dipetakan. Sistem perguaan dikontrol oleh kombinasi faktor struktural dan solusional (pelarutan batuan). Gua Kiskendo merupakan salah satu situs warisan geologi (geoheritage) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gua Kiskendo telah dibuka sebagai destinasi wisata. Lorong yang dibuka untuk akses umum kurang lebih 400 m. Pembukaan wisata Gua Kiskendo melalui proses yang panjang sejak ditemukan pada masa prakemerdekaan hingga dibuka untuk umum pada era 80-an.

Kajian mengenai fauna di Gua Kiskendo antara lain tentang kelelawar Krismiyanti dkk (2003), mengenai fauna gua secara umum oleh Kurniawan dan Harjanto (2007), dan mengenai komunitas Arthropoda tanah oleh Harjanto (2008). Kelelawar di Gua Kiskendo didominasi oleh Miniopterus schreibersii dengan populasi mencapai ribuan. Satu jenis lainnya adalah kelelawar pemakan buah (Megachiroptera) yang menghuni lorong utama di dekat pintu masuk gua wisata.

Jaring-jaring kehidupan hipotetik di lingkungan guano Gua Kiskendo (Harjanto, 2009)

Arthropoda di Gua Kiskendo didominasi oleh fauna permukaan tanah berukuran kecil yang mengkoloni guano, terdiri dari miliped (Suku Cambalopsidae), ekor pegas (Collembola), psycodid, dan lalat bongkok (Suku Phoridae). Jangkerik gua dari jenis Rhaphidophora sp. mudah di temukan di sepanjang lorong, sedangkan kerabatnya, Diestrammena sp. hanya dapat dijumpai di sekitar pintu masuk gua. Predator kecil yang biasa hidup di sekitar tumpukan guano antara lain Javazomus sp (Schizomida), dan kepik dari Suku Staphilinidae. Sementara untuk predator yang lebih besar didominasi oleh laba-laba Heteropoda sp. (Suku Sparassidae). Jenis lainnya yang juga berperan sebagai pemangsa adalah kalacemeti dari jenis Stygophrynus dammermani.