Respon Covid-19 masyarakat pedesaan


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan Covid-19 yang disebabkan oleh infeksi virus corona sebagai pandemi global (11/3/2020). Hingga kini telah lebih dari dua juta orang terinfeksi, dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit pula (21/04/2020). Serangan virus yang pertama kali diketahui di Wuhan, China ini menjadi bencana bagi masyarakat dunia.

Serangan corona virus ini tidak saja memberi dampak bagi kesehatan manusia, namun juga telah memukul perekonomian dunia. Seluruh negara mengalami perlambatan ekonomi, bahkan hanya ada beberapa negara di dunia yang pertumbuhan ekonominya masih positif. Begitu pula dengan Indonesia, ekonomi kita juga mengalami kemerosotan. Beberapa orang bahkan menyebutkan pukulannya lebih parah dari krisis 97/98. Dampak ekonomi karena Covid-19 bisa dirasakan sampai ke pedesaan.

Menghadapi situasi yang memburuk dan tidak menentu membuat masyarakat perlu menyiapkan segala sesuatu untuk bertahan. Salah satu upaya mempersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan krisis yang berkepanjangan telah dilakukan komunitas masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi. Sebagai masyarakat pedesaan yang bergantung pada produk dan jasa hutan, kelompok ini telah menyiapkan strategi dalam merespon kondisi krisis ini.

Sebagai upaya untuk mengedukasi anggotanya, maka pengurus kelompok ini telah membuat kebijakan-kebijakan antara lain:
1. Menghimbau anggota untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kesehatan dan keselamatan pribadi dan keluarga.
2. Menghimbau anggota untuk selalu mengikuti petunjuk penanggulangan Covid-19 seperti jaga jarak (social & physical distancing), perilaku hidup bersih sehat, dan upaya lain sesuai rekomendasi pemerintah.

Sedangkan dalam rangka menghadapi kondisi ekonomi yang kurang baik maka Wanapaksi menghimbau para anggotanya untuk meningkatkan ketahanan keluarga, dengan cara:
1. Menggalakkan penanaman tanaman pangan untuk meningkatkan ketahanan pangan bagi para anggota.
2. Membuat warung & apotek hidup / lumbung hidup di sekitar lingkungan rumah untuk mengurangi pengeluaran konsumsi rumah tangga.
3. Bagi yg memelihara lebah disarankan untuk selalu menyediakan cadangan madu untuk menjaga imunitas keluarga.
4. Meningkatkan kekompakan, kerjasama, dan saling dukung antar anggota dalam upaya mensukseskan program-program wanapaksi menghadapi Covid-19 (misal berbagi bibit tanaman warung & apotek hidup, dll).

Semua tentu berharap bahwa badai Covid-19 ini segera berlalu dan situasi akan segera normal kembali, namun tidak ada salahnya juga kita mempersiapkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Salam sehat.

Kalacemeti dammerman dari Menoreh


Sosoknya terlihat garang, nampak seperti kombinasi antara laba-laba dan kalajengking. Dengan tubuh flat berkulit cokelat gelap dan kusam. Tungkainya 4 pasang, namun sepasang pertama memanjang hingga menyerupai cambuk. Sepasang capit, atau disebut pedipalpi, nampak kokoh siap mencengkeram mangsa. Dialah si 'kalacemeti', predator penghuni gua-gua di kawasan karst Menoreh.

Nama kalacemeti barangkali diambil dari bentuk tungkai depannya yang menyerupai cambuk atau cemeti dalam bahasa lain. Kalacemeti, atau Bangsa Amblypygi, berkerabat dengan laba-laba (Bangsa Araneae), kalajengking (Scorpiones), dan kalacuka (Uropygi). Mereka bersama beberapa kelompok lainnya tergabung dalam kelas Arachnida, suatu kelompok hewan berbuku-buku yang memiliki 4 pasang tungkai.

Kalacemeti yang menghuni karst Menoreh memiliki nama latin Stygophrynus dammermani Roewer, 1928.  Untuk memudahkan penamaan, kita bisa menyebutnya kalacemeti dammerman. Jenis ini merupakan satu dari sekitar 155 jenis kalacemeti di dunia. Marga Stygophrynus termasuk dalam Suku Charontidae. Stygophrynus bisa dikenali dari tiga duri (spina) di punggung pedipalpinya. Untuk mengidentifikasi sampai tingkat spesies diperlukan pekerjaan yang lebih rumit di bawah mikroskop.

Kawasan Menoreh menjadi habitat paling timur bagi kalacemeti dammerman di Pulau Jawa, setidaknya di bagian selatan. Di kawasan Gunung Sewu, yang berjarak kurang lebih 50 km dari Menoreh, bisa dijumpai jenis lainnya, yaitu Charon grayi Gervais, 1842. Jenis tersebut hidup di dalam gua-gua alam kawasan karst Gunung Sewu, dan terus bisa dijumpai ke timur hingga kawasan-kawasan karst Jawa bagian timur. Kalacemeti dammerman memiliki saudara dekat yaitu Stygophrynus sunda Rahmadi & Harvey, 2008; yang menghuni ujung barat Pulau Jawa dan pulau-pulau kecil di Selat Sunda.

Kalacemeti dammerman hidup di dalam gua-gua alam di kawasan karst Menoreh, berperan sebagai pemangsa dalam ekosistem gua. Mangsanya adalah serangga-serangga kecil seperti jangkerik gua. Hidup dalam habitat yang gelap, kalacemeti menerapkan strategi sit and wait atau ambushing. Mereka menunggu serangga yang lewat, dan menyergap dengan cepat menggunakan capitnya. Sensor berupa rambut-rambut halus (trichobotria) pada tungkai antena memudahkan si kalacemeti mengenali mangsanya. Meskipun identik dengan ekosistem gua, tak jarang juga kalacemeti dijumpai di habitat lain, seperti di lubang-lubang tanah, atau celah bebatuan.

Potensi Wisata Jatimulyo


Segitiga Wisata Jatimulyo
Kekuatan potensi wisata desa Jatimulyo bisa dikelompokkan menjadi tiga klaster. Kami menyebutnya sebagai sebuah segitiga potensi kepariwisataan yang meliputi: fenomena alam, keunikan alam, dan budaya.

1. Fenomena Alam
Fenomena alam yang dapat diamati di Desa Jatimulyo adalah bentang alam karst yang terbentuk pada batu gamping Formasi Jonggrangan berumur miosen. Karst di Menoreh ini merupakan salah satu kawasan yang tertinggi di Pulau Jawa, sampai pada ketinggian di atas 800 mdpl. Karst di Menoreh ini juga merupakan kawasan penting dalam penyediaan air bagi Kab. Kulon Progo. Salah satu icon fenomena alam karst di Jatimulyo adalah Gua Kiskendo. Dengan panjang total lebih dari 2 kilometer, Gua Kiskendo adalah sistem lorong bawah tanah terpanjang di Menoreh. Gua ini memiliki sistem sungai bawah tanah terbesar dan cukup rumit. Ornamen gua di dalam gua juga beragam mulai dari stalaktit, stalakmit, helektit, gourdams, drapperies, dll. Gua Kiskendo juga merupakan satu di antara 9 (sembilan) situs warisan geologi (geoheritage) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di dalam gua ini terdapat kontak dua formasi batuan, yaitu batuan gamping (karbonat) yang menumpang di atas batuan gunung api purba Menoreh.




Gua Kiskendo merupakan salah satu destinasi wisata Kulon Progo yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti parkir yang luas, joglo serba guna, bumi perkemahan, gardu pandang, mushola, fasilitas bermain anak, dan toilet. Desa Jatimulyo juga merupakan destinasi wisata alam dengan beberapa objek wisata air terjun seperti Kedungpedut, Kembangsoka, Taman Sungai Mudal, Grojogan Sewu, dan Sitawing. Untuk menikmati panorama dari atas ketinggian, pengunjung juga bisa mengunjungi wisata alam Puncak Gunung Lanang. Objek-objek wisata ini dikelola oleh masyarakat secara mandiri dan menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya.



2. Keunikan Alam
Keunikan alam yang dapat diamati di Desa Jatimulyo adalah keanekaragaman hayati yang tinggi, dan bisa disebut sebagai salah satu hotspot of biodiversity di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 95 jenis burung hidup di wilayah desa ini, beberapa di antaranya adalah jenis-jenis yang memiliki sebaran terbatas. Upaya konservasi yang dilakukan di bawah naungan peraturan desa, dan inisiatif-inisiatif program konservasi oleh masyarakat menjadi catatan penting. KTH Wanapaksi menginisiasi program adopsi sarang burung. Meskipun lingkupnya masih kecil, namun dilihat dari konsistensinya sudah baik. Juga dengan paket-paket wisata pengamatan burung yang mereka tawarkan.

Dua jenis kupu-kupu dilindungi, masing-masing Troides amphrysus dan T. helena juga tercatat mendiami kawasan desa. Dua jenis kupu tersebut melengkapi seratusan jenis yang ada di Jatimulyo. Flora-fauna di Jatimulyo mendiami hutan rakyat yang menjadi tumpuan hidup mayoritas masyarakat. Komoditas unggulan dari pengelolaan hutan rakyat meliputi kopi, gula kelapa, aren, rempah-rempah, empon-empon, dan buah-buahan lokal seperti kepel dan manggis. Mayoritas masyarakat merupakan petani gula, baik gula cetak maupun gula kristal (gula semut). Dengan berbagai inovasi yang dilakukan, gula semut dari Jatimulyo merupakan komoditas dengan standar kualitas eksport yang ketat.


3. Budaya
Desa Jatimulyo adalah salah satu desa budaya terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Predikat ini disematkan karena budaya masyarakatnya yang unik dan beragam. Budaya khas tercermin dari aneka upacara adat dan keseniannya. Upacara adat yang masih dilestarikan sampai saat ini antara lain upacara adat Bubak Kawah, Gumbregi, dan Merti Dusun. Berbagai kelompok seni juga tumbuh subur di desa kami, meliputi kesenian jathilan, kethoprak, gejog lesung, dll. Salah satu icon budaya kami adalah pentas tari kolosal Sugriwa-Subali yang digelar di Kompleks Gua Kiskendo. Selain itu, kami juga menawarkan berbagai kuliner khas seperti sengek gebleg, gembel, dawet sambel, nasi urap, nasi tiplek, dll.


Melihat dari potensi di atas, pengelolaan wisata di Jatimulyo bisa menjadi peluang besar ke depan. Ada banyak sekali alternatif bentuk maupun paket wisata yang bisa disusun. Tentunya sesuai dengan basis data potensi yang telah dikumpulkan. Pengelolaan wisata berkelanjutan membutuhkan peran aktif para pihak, baik pemerintahan, masyarakat sebagai aktor utama, swasta, akademisi, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Wanapaksi kembangkan wisata edukasi agroforest


Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi yang berkedudukan di desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo memang tergolong masih sangat muda. Belum genap satu tahun berdiri, kelompok ini mulai menunjukkan kiprahnya dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan rakyat Jatimulyo. Peningkatan nilai hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan pemanfaatan jasa lingkungan menjadi prioritas Wanapaksi dalam kegiatan-kegiatannya.

Hutan rakyat yang mendominasi wilayah desa Jatimulyo memberi manfaat besar jika dikelola dengan baik. Banyak peluang yang bisa digarap menjadi aktivitas produktif. Salah satunya adalah peluang pengembangan wisata minat khusus. Peluang ini telah disadari oleh Wanapaksi, sehingga kelompok yang diketuai Bp. Sujoko ini kini telah menyusun empat paket wisata edukasi/experience yang menawarkan eksplorasi kawasan agroforest Jatimulyo.

Pembentukan KTH Wanapaksi di Gunungkelir

Hutan memberikan manfaat yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sekitarnya. Hasil hutan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan. Tak terhitung jumlah jenis kayu hutan yang dimanfaatkan manusia untuk berbagai kebutuhan. Di lain sisi, hasil hutan bukan kayu (HHBK) misalnya bambu, gula aren, madu, dan minyak atsiri; masing-masing memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi tumpuan kehidupan masyarakat sekitar hutan. Air bersih yang disimpan oleh perakaran pepohonan, berbagai jenis satwa liar, dan suplai udara segar menjadi contoh nyata jasa lingkungan yang diberikan oleh kawasan hutan.

Desa Jatimulyo yang terletak di lereng Pegunungan Menoreh memiliki kawasan hutan rakyat yang kualitasnya sangat baik. Hutan rakyat, atau biasa disebut sebagai agroforest, di desa ini terbentuk melalui proses panjang berupa trial and error oleh masyarakat petani. Kawasan yang dahulu didominasi oleh kawasan persawahan dan perladangan; dalam kurun waktu 40 tahun berubah menjadi hutan rakyat dengan ratusan jenis tumbuhan, baik tanaman budidaya maupun tanaman liar. Tercatat 120 jenis pohon yang termasuk kelompok tanaman hutan. Belum lagi jenis-jenis perdu, herba, dan aneka tanaman budidaya yang sengaja ditanam oleh para petani. Hutan rakyat di Jatimulyo mendukung kehidupan setidaknya 95 jenis burung liar. Desa yang secara administratif terletak di Kec Girimulyo, Kab Kulonprogo ini menjadi salah satu tujuan wisata pengamat burung liar (birdwatching).

Desa Ramah Burung Tuan Rumah PPBI VIII

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) ke VIII, sebagai hajatan besar tempat berkumpul dan berdiskusi bagi seluruh pengamat dan pemerhati burung se-Indonesia, terasa sangat istimewa di tahun ini. Acara rutin tahunan ini, untuk pertama kalinya digelar sinergis bersama dengan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Adalah desa Jatimulyo yang mendapat kehormatan menjadi lokasi kegiatan ini, tepatnya di pedukuhan Gunungkelir. Acara yang digelar pada tanggal 2-4 November ini diikuti oleh kurang lebih 150 orang pengamat burung dari seluruh Indonesia. Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) menjadi panitia pelaksana PPBI tahun ini.

Tema besar yang diusung PPBI VIII ini adalah Aviturisme. Acara diawali dengan seminar di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada Jumat pagi. Seminar dan diskusi ini berlangsung dengan seru karena menghadirkan para praktisi aviturisme yang telah lama malang melintang di dunia wisata perburungan. Mereka antara lain Shita Prativi dan Politarius atau Bang Poli. Sorenya dengan menggunakan kendaraan truk militer, para peserta bergerak menuju desa Jatimulyo. Di desa yang berada di Pegunungan Menoreh ini, para peserta akan menikmati kekayaan jenis burung yang menghuni kawasan hutan rakyat, sekaligus berbagi cerita dengan masyarakat desa.