Kalacemeti dammerman dari Menoreh


Sosoknya terlihat garang, nampak seperti kombinasi antara laba-laba dan kalajengking. Dengan tubuh flat berkulit cokelat gelap dan kusam. Tungkainya 4 pasang, namun sepasang pertama memanjang hingga menyerupai cambuk. Sepasang capit, atau disebut pedipalpi, nampak kokoh siap mencengkeram mangsa. Dialah si 'kalacemeti', predator penghuni gua-gua di kawasan karst Menoreh.

Nama kalacemeti barangkali diambil dari bentuk tungkai depannya yang menyerupai cambuk atau cemeti dalam bahasa lain. Kalacemeti, atau Bangsa Amblypygi, berkerabat dengan laba-laba (Bangsa Araneae), kalajengking (Scorpiones), dan kalacuka (Uropygi). Mereka bersama beberapa kelompok lainnya tergabung dalam kelas Arachnida, suatu kelompok hewan berbuku-buku yang memiliki 4 pasang tungkai.

Kalacemeti yang menghuni karst Menoreh memiliki nama latin Stygophrynus dammermani Roewer, 1928.  Untuk memudahkan penamaan, kita bisa menyebutnya kalacemeti dammerman. Jenis ini merupakan satu dari sekitar 155 jenis kalacemeti di dunia. Marga Stygophrynus termasuk dalam Suku Charontidae. Stygophrynus bisa dikenali dari tiga duri (spina) di punggung pedipalpinya. Untuk mengidentifikasi sampai tingkat spesies diperlukan pekerjaan yang lebih rumit di bawah mikroskop.

Kawasan Menoreh menjadi habitat paling timur bagi kalacemeti dammerman di Pulau Jawa, setidaknya di bagian selatan. Di kawasan Gunung Sewu, yang berjarak kurang lebih 50 km dari Menoreh, bisa dijumpai jenis lainnya, yaitu Charon grayi Gervais, 1842. Jenis tersebut hidup di dalam gua-gua alam kawasan karst Gunung Sewu, dan terus bisa dijumpai ke timur hingga kawasan-kawasan karst Jawa bagian timur. Kalacemeti dammerman memiliki saudara dekat yaitu Stygophrynus sunda Rahmadi & Harvey, 2008; yang menghuni ujung barat Pulau Jawa dan pulau-pulau kecil di Selat Sunda.

Kalacemeti dammerman hidup di dalam gua-gua alam di kawasan karst Menoreh, berperan sebagai pemangsa dalam ekosistem gua. Mangsanya adalah serangga-serangga kecil seperti jangkerik gua. Hidup dalam habitat yang gelap, kalacemeti menerapkan strategi sit and wait atau ambushing. Mereka menunggu serangga yang lewat, dan menyergap dengan cepat menggunakan capitnya. Sensor berupa rambut-rambut halus (trichobotria) pada tungkai antena memudahkan si kalacemeti mengenali mangsanya. Meskipun identik dengan ekosistem gua, tak jarang juga kalacemeti dijumpai di habitat lain, seperti di lubang-lubang tanah, atau celah bebatuan.

Author:

0 comments: